Kamis, 13 September 2007

MARHABAN YA RAMADHAN

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa” (Surat Al Baqarah : 183)

Keberhasilan suatu ibadah sangat ditentukan oelh kesiapan fisik, spiritual, sikap, pemahaman, bahkan finansial kita untuk menunaikan ibadah tersebut. Oleh sebab itu, untuk menunjang kesuksesan Ramadhan, kita harus melakukan persiapan memadai agar dapat mengisi Ramadhan ini dengan optimal dan meraih berkah dan pahala sebesar-besarnya.

Ada sembilan langkah untuk persiapan maknawiyah menyambut bulan Ramadhan ini:

  1. Menuntaskan hutang puasa tahun lalu

Usahakan untuk menuntaskan hutang-hutang puasa tahun kemarin. Mestinya kita harus sesegera mungkin meng-Qadha’ puasa Ramadhan sebelum Ramadhan berikutnya. Namun kalau sibuk seperti istri sibuk melayani suami dan anak-anaknya, maka ia bisa menuntaskan puasanya pada bulan Sya’ban. Seperti Aisyah yang sibuk melayani Rasulullah S.A.W sehingga ia tidak bisa meng-Qadha’ puasanya kecuali pada bulan Sya’ban. Rasullulah bersabda:

Barang siapa mendapati Ramadhan sedangkan ia masih punya hutang kewajiban meng-Qadha’ puasa yang lalu, maka tidak akan diterima puasanya.” (HR Ahmad)

Sebagai bentuk kehati-hatian, maka kita tuntaskan hutang puasa tahun lalu sebelum memasuki Ramadhan tahun berikutnya sehingga kita biasa beribadah dengan mantap dan tidak terbebani rasa bersalah karena belum meng-Qadha’ puasa tahun lalu.

  1. Tanamkan kerinduan kepada bulan Ramadhan

Rasulullah S.A.W selalu menunggu kehadiran waktu ibadah dengan penug kerinduan, layaknya orang haus yang menantikan air minum segar. Kerinduan akan mendorong kita lebih bersemangat dalam menjalankan ibadah Ramadhan dan tidak menyia-nyiakan. Dalam menumbuhkan kerinduan ini, kenanglah kesuksesan tahun lalu dan tanamkan keinginan agar Ramadhan ini kita lebih meningkat lagi, atau bayangkan beberapa amal Ramadhan tahun lalu yang gagal memenuhi target, agar Ramadhan ini kita bisa menyempurnakannya. Kerinduan ini dapat dimulai sejak bulan Sya’ban bahkan melalui do’a:

Ya ALLAH berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan.” (Majmu’fatawa 25/5)

Do’a ini menunjukan keriduan yang mendalam pada bulan Ramadhan, amal hebat yang tidak bisa kita lakukan di bulan-bulan lain.

  1. Lakukan evaluasi ibadah ramadhan tahun kemarin

Sebelum memasuki bulan Ramadhan tahun ini, lakukan evaluasi terhadap kualitas dan kuantitas amaliyah Ramadhan kemarin. Sejauh mana kita berhasil merealisasikan target-target puasa, apa kendalanya, langkah-langkah apa yang harus di lakukan untuk mmengantisipasi kegagalan agar tidak terualng kembali, kelebihan dan kekuatan apa saja yang harus tetap kita lestarikan dan kita tingkatkan pada Ramadhan tahun ini.

  1. Lakukan persiapan fisik

Rasulullah S.A.W bersabda:

Mukmin yang kuat itu lebih baik dan dicintai oleh ALLAH daripada mukmin yang lemah, pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim)

Langkah sukses ibadah Ramadhan adalah persiapan fisik ini Rasullulah S.A.W pernah melarang puasa pada separuh kedua bulan Sya’ban seraya bersabda:

Apabila tersisa separuh dari bulan Sya’ban maka janganlah kamu berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

Cara melakukan persiapan adalah dengan tidak melakukan pekerjaan berat, mengatur siklus tidur dan sesuaikan dengan aktivitas Ramadhan, persiapkan dana konsumsi yang memadai selama Ramadhan agar lebih maksimal dan berkonsentrasi dalam ibadah. Termasuk disini juga menjaga kebugaran tubuh dengan banyak bergerak dan berolahraga.

  1. Selenggarakan tarhib Ramadhan

Disamping individual, lakukan dengan persiapan kolektif, dengan menyelenggarakan tarhib Ramadhan, yaitu mengumpulkan kaum muslimin dimasjid atau tempat lain untuk diberi peringatan dan pengarahan seputar Ramadhan, adab-adabnya, syarat dan rukunnya, hal-hal yang membatalkannya, atau amaliyah ta’abbudiyah yang seharusnya dilakukan dibulan Ramadhan. Banyak riwayat dijelaskan bahwa Rasulullah S.A.W mmemanfaatkan hari pertama Ramadhan untuk memberikan pengarahan kepada mereka seputar Ramadhan.

  1. Benahi sikap terhadap Ramadhan

Pengaruh dan efektivitas puasa bagi kita sangat tergantung dengan persepsi dan sikap kita terhadap puasa tersebut. Oleh karena itu, kita harus membenahi sikap kita terhadap puasa agar berdampak positif dan maksimal bagi kita. Sikap kaum muslimin terhadap puasa Ramadhan terbagi menjadi:

  1. Kelompok yang menyikapi dengan tidak peduli terhadap bulan Ramadhan.

  2. Kelompok yang menyikapi puasa Ramadhan sebagai beban yang teramat berat.

  3. Kelompok orang yang menyikapi puasa sebagaikewajiban agama dan syariat yang harus dilaksanakan.

  4. Kelompok yang menyikapi puasa sebagai kebutuhan mendesak untuk kesempurnaan penghambaan diri terhadap ALLAH S.W.T

  1. Berdo’a ketika melihat hilal

Ketika melihat hilal Ramadhan kita disunnahkan membaca do’a sebagaimana diriwayatkan oleh Thalbah bin Ubaid r.a bahwa ketika hilal Nabi S.A.W berdo’a:

Ya ALLAH perlihatkanlah kepada kami keamanan dan keimanan, keselamatan dan keislaman. Tuhanmu adalah ALLAH, wahai hilal kebenaran dan kebaikan.” (HR. Tirmidzi)

Do’a ini adalah pengharapan agar bulan Ramadhan yang datang ini diliputi suasana keamanan dan keimanan, penuh keselamatan dan semangat keislaman. Do’a ini mencerminkan sikap optimis terhadap bulan, pecan dan hari yang akan dilewati.

  1. Meluruskan niat puasa

Niat menyimpan kekuatan dan energi yang menggerakan seseorang dalam beramal kebajikan, dan amal seseorang sangat tergantung dari niatnya. Rasulullah bersabda:

Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan apa yang diniatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Niat kaum muslimin dalam beribadah Ramadhan tidaklah sama, ada yang berpuasa karena ikut-ikutan, sekedar dorongan kebiasaan, karena ingin mendapatkan keuntungan duniawi, agar langsing tubuhnya, seimbang, atau keuntungan medis lainnya, dan ada yang berpuasa untuk mencari ridha dan pahala dari ALLAH, bukan pamrih duniawi. Karena niat kita yang lurus otomatis meraih keuntungan duniawi, tetapi niat yang tidak lurus, akhirat tidak didapatkan dan keuntungan duniawi belum pasti.

  1. Mempersiapkan finansial

Orang seringkali sapalh persepsi bahwa bulan Ramadhan adalah bulan berkah, tapi berkah yang dipahami adalah “sekedar financial”, sehingga bulan Ramadhan bulan bisnis untuk meraup “berkah”. Persiapan financial sangat penting agar ada orientasi dalam ibadah Ramadhan. Apa yang kita bisa berikan untuk fakir miskin? Apa yang kita infaqkan untuk memakmurkan masjid? Bisakah kita memberikan sumbangan dana dakwah? Bagaimana kita bisa tenang beribadah kalau kantong kosong, perut keroncong sementara keimanan kita bolong-bolong? Jadi sambut bulan suci Ramadhan dengan persiapan matang. Caranya dengan menabung dan menyiapkan dana khusus untuk investasi “keuntungan luar biasa” di bulan mulia.


Mukheri. 2007.”Menyambut Bulan Suci Ramadhan”.Media Tausiyah R.S Roemani Muhammadiyah:Semarang.